*Sambil menunggu Ashar*

Dear Allah,

Terima kasih telah menganugerahi aku begitu banyak teman baik. Dan untuk kali ini, dari yang banyak itu, Engkau sisip kan dua yang paling baik. Keduanya Kau jadikan logical-mind di luar kepalaku, juga hati di luar tubuhku. Dua bagian inti yang bisa mengendalikan aku ketika otak dan hatiku sendiri tak bisa aku kendalikan. Mereka bekerja justru ketika otak-otakku sendiri kupaksakan tumpul. Mereka bekerja justru ketika hatiku sendiri kupaksakan mati.

Pada masalah hati yang selalu mau menang sendiri, ketika original-logical-mind ku aku bekap erat tak boleh berteriak, ekstra-logical-mind di luar kepalaku pun mengurai fakta-fakta logis, hubungan sebab-akibat, tidak boleh begitu karena ini maupun harus begini karena itu, memaparkan etika yang tak pernah ada dalam undang-undang ketika orang sedang jatuh cinta, menjejalkan berbagai argument yang tidak pernah sejalan dengan hati, menohok dengan kenyataan-kenyataan yang tak sedikitpun memberi pembelaan. But it does work. Terpaksa. Tepatnya ia memaksanya masuk kedalam original-logical-mind ku, membebaskannya dari bekapanku. Dan hatiku pun kalah. Dan aku merasa bahwa tak penting lagi memiliki hati. Tepatnya (lagi), masalah hati ku itu tidak penting. Karena kedua logical-mind itu kaku, mereka tidak tahu bahwa ada kebahagian yang cuma hati saja yang bisa merasakannya, dan berat harus mengakui “mereka menang”. Dan sampai pada titik itu, hatiku diam tak bergeming, menyaksikan kemenangan kedua logical-mind-ku.

Setelahnya aku akan terlihat baik-baik saja. Sepertinya semua masalah sudah selesai dengan tidak melukai hati siapapun. Tapi justru melukai hatiku sendiri. Maka ketika itulah, hati ini kupaksakan mati. Mengelakkan sedih yang masih.

Pada saat seperti inilah Engkau meminjamkan aku ekstra-hati. Ekstra hati yang berasal dari jenisku sendiri. Satu dari dua paling baik yang Engkau sisipkan di antara yang baik. Ekstra-hati kembali menggugah hatiku. Perlahan membangkitkannya dari mati suri. Kembali mengurai apa yang pernah terlontar logical-mind dengan perspektif yang berbeda. It’s normal for being that wanitawi.. But.. bla bla bla bla bla and bla.. *sencored* Hatiku pun mendengar ekstra-hati dengan tanpa sinis, malah diikuti dengan manggut-manggut mengerti, dan diakhiri dengan anggukan pasti. Ini memang jalan yang harus aku pilih untuk masalah hatiku kali ini, hanya saja aku butuh ekstra hati untuk bisa benar-benar mengerti. Thanks Allah..

28-09-2009
dedicated for my extra-logical-mind and extra-hati