Ekstra Hati..

curhat No Comments »

*Sambil menunggu Ashar*

Dear Allah,

Terima kasih telah menganugerahi aku begitu banyak teman baik. Dan untuk kali ini, dari yang banyak itu, Engkau sisip kan dua yang paling baik. Keduanya Kau jadikan logical-mind di luar kepalaku, juga hati di luar tubuhku. Dua bagian inti yang bisa mengendalikan aku ketika otak dan hatiku sendiri tak bisa aku kendalikan. Mereka bekerja justru ketika otak-otakku sendiri kupaksakan tumpul. Mereka bekerja justru ketika hatiku sendiri kupaksakan mati.

Pada masalah hati yang selalu mau menang sendiri, ketika original-logical-mind ku aku bekap erat tak boleh berteriak, ekstra-logical-mind di luar kepalaku pun mengurai fakta-fakta logis, hubungan sebab-akibat, tidak boleh begitu karena ini maupun harus begini karena itu, memaparkan etika yang tak pernah ada dalam undang-undang ketika orang sedang jatuh cinta, menjejalkan berbagai argument yang tidak pernah sejalan dengan hati, menohok dengan kenyataan-kenyataan yang tak sedikitpun memberi pembelaan. But it does work. Terpaksa. Tepatnya ia memaksanya masuk kedalam original-logical-mind ku, membebaskannya dari bekapanku. Dan hatiku pun kalah. Dan aku merasa bahwa tak penting lagi memiliki hati. Tepatnya (lagi), masalah hati ku itu tidak penting. Karena kedua logical-mind itu kaku, mereka tidak tahu bahwa ada kebahagian yang cuma hati saja yang bisa merasakannya, dan berat harus mengakui “mereka menang”. Dan sampai pada titik itu, hatiku diam tak bergeming, menyaksikan kemenangan kedua logical-mind-ku.

Setelahnya aku akan terlihat baik-baik saja. Sepertinya semua masalah sudah selesai dengan tidak melukai hati siapapun. Tapi justru melukai hatiku sendiri. Maka ketika itulah, hati ini kupaksakan mati. Mengelakkan sedih yang masih.

Pada saat seperti inilah Engkau meminjamkan aku ekstra-hati. Ekstra hati yang berasal dari jenisku sendiri. Satu dari dua paling baik yang Engkau sisipkan di antara yang baik. Ekstra-hati kembali menggugah hatiku. Perlahan membangkitkannya dari mati suri. Kembali mengurai apa yang pernah terlontar logical-mind dengan perspektif yang berbeda. It’s normal for being that wanitawi.. But.. bla bla bla bla bla and bla.. *sencored* Hatiku pun mendengar ekstra-hati dengan tanpa sinis, malah diikuti dengan manggut-manggut mengerti, dan diakhiri dengan anggukan pasti. Ini memang jalan yang harus aku pilih untuk masalah hatiku kali ini, hanya saja aku butuh ekstra hati untuk bisa benar-benar mengerti. Thanks Allah..

28-09-2009
dedicated for my extra-logical-mind and extra-hati

I Love My Job

curhat No Comments »
Aku sedang mencoba menelaah kembali sebuah quote yang aku buat sendiri beberapa waktu lalu. Mungkin klise, dimana berarti, sudah banyak orang lain yang mengemukakan quote itu jauh sebelum aku. Bekerja itu adalah salah satu praktik ibadah. Ibadah itu (insha Allah) mendatangkan pahala. Dan pahala itu adalah kereta yang kelak membawa kita pada syurga. Jika dituliskan dalam bentuk rumus matematika akan terbentuk sebuah persamaan dimana :
Bekerja = Ibadah = Pahala = Syurga

Dari The Devil Wears Prada aku mendapatkan satu cara untuk mensugesti diri kita agar bisa lebih menikmati pekerjaan ketika pekerjaan itu terasa membosankan, menyebalkan, sangat menyusahkan. Say this three times “I love my job.. I love my job.. I love my job..”. Cara yang lumayan bagus, tapi tidak cukup membantu jika kita tidak benar-benar punya konsep lain tentang bagaimana sesungguhnya mencintai sebuah pekerjaan.

Bekerja mulai pukul sembilan pagi sampai pukul lima sore. Yeah.. everybody does. Agak sedikit berbeda dalam kasusku. Jam kerja fleksibel. Ada dua paradigma di sini. Fleksible yang menyenangkan, atau fleksible yang satunya lagi, kurang menyenangkan. Menyenangkan karena tidak terikat dengan keharusan datang jam sembilan dan pulang jam lima, bisa datang lebih terlambat dan pulang lebih awal, gaji relatif besar, beban pekerjaan yang biasa-biasa dengan tingkat kesulitan 70 dari skala 10-100. Menjadi paradigma yang kurang menyenangkan karena fleksibel dalam hal ini, bukan tuntutan dimana kita harus bekerja selama delapan jam dalam satu hari, melainkan pekerjaan yang dibebankan harus diselesaikan secepat mungkin, tanpa peduli definisi cepat dalam hal ini membutuhkan waktu lebih dari sepuluh jam dengan tingkat ketelitian dan kehati-hatian yang sangat tinggi, sekalipun gaji sedikit agak lebih besar dari fleksibel yang menyenangkan, berani taruhan, sebagian besar orang akan memilih digaji lebih sedikit daripada harus datang pagi pukul sembilan berlanjut ke pukul sembilan pagi di hari berikutnya, belum lagi jika harus ditambah dengan rekan kerja yang kurang menyenangkan yang cenderung menyebalkan.. huuufhh…

Ya, neracaku bergerak lebih berat ke paradigma yang kedua bagi sebagian kalangan, kurang menyenangkan kalau menurut orang. Sebetulnya aku punya banyak sekali alasan untuk mengeluh, untuk melenguh. Beberapa orang merasa simpati, merasa salut padaku, tapi beberapa lagi menganggapku obsesif dan workaholic, berbeda lagi dengan mereka yang menganggap remeh aku karena aku cuma lulusan SMK. Bukan bermaksud mencari simpati, but it does really happen to me.

“udahlah iz.. pulang aja.. ga harus sampe malem gini kan kerja nya?”

“Masih dikantor izz?? Ngejar setoran buat lebaran yah?”

“Ya Ampuun aizz.. lo sampe pagi lagi hari ini?”

“Loh.. kok aizz masuk malem-malem gini? ada kerja apa memangnya?”

“Kenapa sih kejadian kayak gini lagi?!! Ini kantor!! Bukan training center!! Jadi jangan main-main yaah!!”

“Ngga ada orang bodoh, yang ada cuma orang malass!!” *terbayang ekspresinya mendelik ke arah ku*

Subhanallah.. Banyak sekali yang aku pelajari dari semua ini. I love my job.. I love my job.. I love my job.. Huuuufh.. Ini bukan semata-mata mantra sugesti belaka. Aku mencintai pekerjaanku dari sudut pandang yang berbeda. Dari pekerjaan ini, aku mendapat gaji setiap bulannya. Dari gaji itu aku bisa menutupi semua kebutuhanku. Walaupun tak jarang, sebagiannya juga aku pakai untuk membayar hutang bulan sebelumnya. Alhamdulillah aku masih punya pekerjaan di saat orang lain kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ya, itu adalah sebagian reward yang aku dapatkan untuk memenuhi kebutuhan duniaku.

Pekerjaan adalah sebuah amanah. Apa pun itu, mudah atau sukar. Aku akan lebih senang jika amanah yang diberikan padaku bisa aku selesaikan meskipun harus sampai larut malam daripada harus menunda esok dimana aku sendiri tidak yakin apakah amanah itu akan terselesaikan esok atau harus terpaksa ditunda sampai esok lusa. Jadi ini bukan perkara “kerjaan mah kalo diturutin ngga ada habisnya, bukan, bukan itu sama sekali” selama pekerjaan tidak menjadikan aku manusia yang lalai pada ibadahku yang lainnya. insha Allah.

Menghadapi orang-orang yang kurang menyenangkan juga merupakan salah satu ujian. Dan sebabnya ada ujian itu tanda bahwa Allah sayang sama kita. Jadi tidak ada alasan untuk mengeluh. Mereka ada untuk menguji seberapa sabar kita. Mereka ada untuk kita pelajari bahwa tidak semua orang memiliki sudut pandang, watak, dan kepribadian yang sama dengan kita. Mempelajari mereka menjadikan kita bisa lebih bijaksana dalam menghadapi tipe orang serupa di kemudian hari. Melakukan kesalahan dalam pekerjaan juga bukan semata-mata karena kita bodoh atau malas. Bukan pula suatu kebetulan. Ada rencana Allah di dalam setiap kejadian. Siapa yang menyangka sekalipun sudah merasa teliti, masih saja ada yang luput. Mungkin melalui ‘melakukan kesalahan’ Allah ingin mengingatkan kita bahwa kita hanya makhluk, bukan khalik, mungkin kita lupa membaca bismillah sebelum mengerjakannya, mungkin kita sering lupa mengucapkan hamdalah kketika sebuah pekerjaan dapat terselesaikan tanpa masalah.

Poin terpenting, selalu ada hubungan kita dengan Sang Khalik di setiap hubungan kita dengan manusia.. Hidup ini indah tergantung dari sudut mana kita memandangnya.. ^_^


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in