Female.. 20 years old.. 155cm.. 78Kg.. Single.. Independent.. Confidence.. and Very Happy

Apa yang terbayang di kepala anda ketika membaca prolog tulisan saya. Pasti tidak jauh dari sesosok perempuan muda dengan tubuh yang pendek dan badan yang gembrot. Sudah berusia dua puluh tahun tapi belum pernah sekalipun terlibat dalam status ‘in relationship with someone’. Perempuan muda ini memang mandiri dan selalu terlihat percaya diri. Namun sebenarnya dia tidak benar-benar hepi dengan keadaannya saat ini. Kata Very sebelum Happy sangat terbaca kalau ia hanya menutup-nutupi perasaannya yang sebenarnya tidak begitu bahagia, apalagi dengan status lajang dan tubuhnya yang jangankan dilihat kasat mata, dibayangkan saja sudah merusak selera.

Dan sangat berat bagi saya untuk mengakui bahwa perempuan muda itu adalah representasi diri saya sendiri. Lantas, apa hubungannya keadaan saya dengan film pendek ponds, dengan cinta, juga dengan kekuatannya?

Terus terang, saya sangat menyukai film-film pendek iklan ponds yang sering diiklankan di televisi. Saya selalu tak sabar menunggu kelanjutan ceritanya di tivi, bahkan karena terlalu tidak sabarnya, sampai-sampai saya mencari versi lengkapnya di you tube. Saya selalu senang melihat film-film pendek itu. Tidak hanya pada jalan ceritanya, tapi juga pada semua tokoh yang ada di dalamnya, terutama si bintang perempuan pemeran utama. Tidak ada satu pun dari mereka yang tidak cantik.

Menyaksikan film-film itu memberikan banyak pandangan dan pemikiran yang berbeda satu sama lainnya di kepala saya. Tidak jarang usai menonton film itu, saya menjadi semakin pesimis pada diri saya. Saya berpikir, mungkin cinta sejati itu benar-benar ada, cinta beserta kekuatannya pun mampu memenangkan dan menemukan jalan ceritanya sendiri. Hanya saja saya pesimis tentang semua itu. Cinta tidak diciptakan untuk orang macam saya. Saya menjadi punya anggapan kalau cinta, kalau cerita bahagia, hanya dimiliki oleh perempuan-perempuan cantik saja, dengan tubuh langsing mereka, dengan kulit putih bersinar mereka, bahkan parahnya, saya beranggapan kalau hanya mereka yang cantik sajalah yang bisa memenangkan hati pria pujaan hati mereka.

Tetapi film pendek ponds yang terbaru “Love conquers all” dengan Tom dan Rose di dalamnya, memberikan sudut pandang baru bagi saya (walaupun saya belum tuntas menyaksikannya sampai selesai, sebab dicari di youtube pun masih belum ada full drama nya *sedih*). Saya mulai menyadari bahwa sesungguhnya cinta punya kekuatan yang maha dahsyat, kekuatan yang tidak semata-mata ada begitu saja, melainkan harus dipupuk perlahan dalam hati kita.

Film pendek itu mengingatkan saya pada seseorang yang saya pikir telah mengabaikan saya. Seseorang yang kepadanya sudah saya putuskan semua harapan-harapan saya. Seseorang yang pernah mengaku sangat menyayangi saya, tapi saya justru berbalik tidak mengacuhkannya hanya karena dia tidak pernah sekalipun meminta saya menjadi pacarnya. Saya merasa dia sama saja seperti yang lainnya, dia malu memiliki pacar yang gendut dan pendek seperti saya. Saya lupa bahwa dia menyayangi saya, saya lupa bahwa dia sudah berani mengakui perasaannya itu pada saya, saya lupa selama ini ia selalu hangat pada saya, saya lupa bahwa ia selalu beserta saya kemanapun saya mau dia ada, saya lupa kalau dulu saya sering mendapatinya menatap saya diam-diam dengan perasaan yang begitu dalam, bahkan saya lupa bahwa mungkin saya pernah sangat menyakitinya dengan cerita-cerita saya tentang mantan-mantan calon pacar saya sebelum ia mengakui perasaan sayangnya pada saya. Tiba-tiba saja saya menjadi begitu egois ketika itu.. Padahal tanpa menjadi pacarnya pun saya telah mendapatkan semuanya dari dia. Tidak sekali dua kali ia meyakinkan perasaannya pada saya, dan dia hanya meminta waktu dari saya, bahwa akan ada saatnya nanti dia mewujudkan harapan-harapan saya padanya.

Saya berpikir keras.. mencoba merenungi semua sikapnya pada saya, merenungi sikap sepihak saya. Mencoba mengerti situasi yang sebenarnya terjadi di antara kami. Akhirnya saya sampai pada satu jawaban yang saya dapatkan sendiri dengan kembali menilik kisah kami di belakang.

Saya teringat, dia pernah bilang pada saya bahwa pernah sekali ia menyakiti mantan pacar pertamanya semasa SMP dulu, dan sejak saat itu dia bernazar untuk tidak pacaran selama SMA agar ia tak lagi menyakiti hati wanita lainnya. Bagaimana bisa saya terlupa nazarnya itu?!! Kini saya yakin, dia pasti melanjutkan nazarnya itu sampai ke bangku perguruan tinggi. Memang dia tidak cerita, tapi saya bisa mengerti, memang nazar itu tabu untuk dibicarakan karena beberapa alasan.

Dia tidak mau memacari saya karena dia tak ingin menyakiti hati saya, dia ingin menjaga hati saya, tapi saya justru menyakiti diri saya sendiri dengan pikiran-pikiran picik saya. Harusnya saya tau, ini adalah saat-saat kami memupuk perasaan kami.

Tiba-tiba saja semua itu membuat saya ingin menjadi lebih cantik, lebih langsing, dan lebih bersinar. Banyak alasannya mengapa. Bukan hanya untuk memenangkan hatinya, tapi juga sebagai bentuk penghargaan karena dia mencintai saya ketika saya bukan apa-apa. Sebagai rasa terimakasih karena dia memilih untuk mencintai saya yang gendut dan pendek ini.. Sebagai bentuk rasa cinta saya karena dia telah membuat saya merasa menjadi wanita paling cantik di dunia.. dia yang telah membuat saya untuk pertama kalinya merasa begitu sempurna sebagai wanita.

” Saya ingin cantik dan bersinar.. Karena memang sudah seharusnya demikian.. Tuhan telah menciptakan perempuan dengan segala keindahannya.. Kita sebagai perempuan hanya tinggal menyempurnakan dan senantiasa menjaganya. Menjadi cantik akan memberikan kenyamanan dan kekuatan tersendiri bagi seorang perempuan baik dalam pencarian maupun penantian cintanya.. itulah yang sedang saya coba yakini saat ini.. dan saya hampir membuktikannya.,”

Sebetulnya yang dihadapi Tom dan Rose tidak jauh berbeda dengan apa yang sedang saya alami. Kami punya cerita yang serupa walaupun tidak sama. Perbedaan kasta dan tidak adanya restu dari orang tua adalah rintangan yang harus mereka hadapi, mereka perjuangkan bersama untuk bisa memenangkan cinta mereka. Sedang saya, saya harus bergelut dengan hati saya sendiri untuk bisa sepenuhnya meyakini janjinya pada saya, harus ekstra sabar menunggu saat yang ia janjikan itu tiba, saat dimana harapan-harapan saya tidak kandas dan terhempas begitu saja. Dan inilah saat-saat kami memupuk cinta kami lagi..