Tentang Dia - Part 2
curhat February 8th, 2009lanjutan dari Tentang Dia - Part 1
Ini adalah kebetulan untuk yang kesekian kalinya. Lagi, lagi, dan lagi gw gagal ketemu sama dia. Bukan, ini bukan semata-mata kebetulan biasa. Ngga ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini.. Allah sudah mengatur semuanya.
Gw terbentur pada dua kesimpulan yang sangat kontras. Pertama, mungkin Allah ingin menunjukkan kalau dia bukan jalan gw. Kesimpulan yang kedua, Allah sedang menguji seberapa sabar gw menunggu dia.
Gw merasa kesimpulan yang pertama itu lebih dominan. Karena apa? Karena dia ngga pernah tegas untuk minta gw sabar nunggu dia, sekalipun sampe sekarang dia tetep bersikap seolah-olah dia masih menyukai gw. Gw ngga yakin sama dia. Di mata gw dia cuma pura-pura aja, dia cuma mau ngejaga perasaan gw supaya gw ngga sakit hati. Padahal rasanya lebih sakit kalo digantungin kayak gini.
Sepertinya gw harus menerima kalo semua rasa antara gw ma dia emang udah ngga ada. Dia atau pun gw, kami beruda berhak untuk tidak berpura-pura baik-baik saja.
Gw merasa gw berhak untuk merasa diinginkan sama orang yang menyukai gw. Sedangkan orang yang (mengaku) menyukai gw ngga pernah benar-benar nunjukkin kalau dia menginginkan gw. Terus terang gw tersinggung. Gw merasa gw sama sekali ngga special. Karena itu gw ngga perlu berpura-pura ngga menyadari semua itu. Gw tau dia udah ngga suka lagi sama gw.
Demikian dia, dia juga berhak untuk ngga suka lagi sama gw. Dia boleh berhenti berpura-pura kalo hanya untuk ngejaga perasaan gw. Gw pastiin gw akan baik-baik aja walopun mungkin sedikit sakit.
Dalam situasi ini, gw udah rela. Rela menjadikan dia hanya sebatas masa lalu gw. Rela untuk kehilangan salah satu pemuja terbaik gw. Rela untuk mengubur semua harapan-harapan gw tentang dia walopun sebenernya gw ngga ingin. Rela untuk menjadikan hubungan kami seperti semula, hanya teman biasa tanpa embel-embel tapi mesra.
Ini belum berakhir, tapi memang sangat nyaris.. Epilog cerita bisa kapan aja berubah. Dengan berat hati, untuk kali ini, gw pilih kesimpulan pertama. Finish
Ini adalah kebetulan untuk yang kesekian kalinya. Lagi, lagi, dan lagi gw gagal ketemu sama dia. Bukan, ini bukan semata-mata kebetulan biasa. Ngga ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini.. Allah sudah mengatur semuanya.
Gw terbentur pada dua kesimpulan yang sangat kontras. Pertama, mungkin Allah ingin menunjukkan kalau dia bukan jalan gw. Kesimpulan yang kedua, Allah sedang menguji seberapa sabar gw menunggu dia.
Gw merasa kesimpulan yang pertama itu lebih dominan. Karena apa? Karena dia ngga pernah tegas untuk minta gw sabar nunggu dia, sekalipun sampe sekarang dia tetep bersikap seolah-olah dia masih menyukai gw. Gw ngga yakin sama dia. Di mata gw dia cuma pura-pura aja, dia cuma mau ngejaga perasaan gw supaya gw ngga sakit hati. Padahal rasanya lebih sakit kalo digantungin kayak gini.
Sepertinya gw harus menerima kalo semua rasa antara gw ma dia emang udah ngga ada. Dia atau pun gw, kami beruda berhak untuk tidak berpura-pura baik-baik saja.
Gw merasa gw berhak untuk merasa diinginkan sama orang yang menyukai gw. Sedangkan orang yang (mengaku) menyukai gw ngga pernah benar-benar nunjukkin kalau dia menginginkan gw. Terus terang gw tersinggung. Gw merasa gw sama sekali ngga special. Karena itu gw ngga perlu berpura-pura ngga menyadari semua itu. Gw tau dia udah ngga suka lagi sama gw.
Demikian dia, dia juga berhak untuk ngga suka lagi sama gw. Dia boleh berhenti berpura-pura kalo hanya untuk ngejaga perasaan gw. Gw pastiin gw akan baik-baik aja walopun mungkin sedikit sakit.
Dalam situasi ini, gw udah rela. Rela menjadikan dia hanya sebatas masa lalu gw. Rela untuk kehilangan salah satu pemuja terbaik gw. Rela untuk mengubur semua harapan-harapan gw tentang dia walopun sebenernya gw ngga ingin. Rela untuk menjadikan hubungan kami seperti semula, hanya teman biasa tanpa embel-embel tapi mesra.
Ini belum berakhir, tapi memang sangat nyaris.. Epilog cerita bisa kapan aja berubah. Dengan berat hati, untuk kali ini, gw pilih kesimpulan pertama. Finish

March 20th, 2009 at 12:01 am
assalamu’alaykum wr wb
kunjungan balik nih dari blognya itik ^___^
jawaban dari aizzah ada di blogku ya ^^
trimakasih sudah mau berkunjung .. salam kenal ya
June 1st, 2009 at 5:28 pm
Memang tidak ada pilihan yang lebih baik honey. Saat kita sudah menjalani hubungan pun. Saat hubungan itu pun sudah berlangsung dalam hitungan tahun. Dan hubungan itu sudah membicarakan kea rah yang lebih dari sekedar status in relationship. Di suatu hari dia berkata sebelum dia menghilang untuk selamanya, tanpa menoleh ke belakang untuk memperdulikan perasaan ku. “Kalo boleh jujur, aku tidak pernah benar-benar cinta sama kamu. Bahkan perasaan rindu pun tidak pernah datang yang benar-benar murni dari dalam hati aku. Selama ini aku bilang kangen, aku bilang sayang, hanya sebatas kewajiban yang harus aku lakukan karena kita dalam suatu kondisi yang di katakan in relationship. Kamu bukan orang yang aku harapkan, jujur sampai saat ini aku masih mengharapkan dia. Maaf kalo kejujuran ini mungkin membuat hati kamu merasa sakit”.
Apa hal yang terlintas dalam benak aiz?
June 2nd, 2009 at 12:34 pm
Nia sayang.. Ga akan ada waktu atau peristiwa yang sia-sia kalau kita bisa mengambil hikmah yang ada di dalamnya. Everything happens for a reason. Life is too short to wake up with regrets. So, love the person who treat you right, forget the one who don’t. Nobody says it’s gonna be easy, but they just promise it’s gonna be worth it.
Jangan pernah menyesal yaah say.. Time will heal you.. Jangan pernah ngerasa benci juga ke dia. you’re still young.. single and available.. go mingle!!