Kangen Rumah (Part 2)

Uncategorized No Comments »
Fun_time008
Rasanya seperti punya utang jika tidak melanjutkan postinganku
sebelumnya, habis sudah terlanjur di labelli Part 1, ya mau nggak mau
harus ada part berikutnya dunk.. memang sekarang aku sudah tidak kost
lagi, setiap hari berangkat dari dan pulang ke rumah. Senang sekali
rasanya bisa mulai menikmati makanan rumah lagi..

Kali ini aku ingin bercerita tentang adik-adikku. Namanya Hubaibi dan
Asfiya. Kakak beradik yang tak pernah kelihatan akur. Selalu saja ada
yang diributkan. Padahal dua-duanya sama-sama sudah besar. Si tengah
Asfiya sudah kelas dua SMA sedang si bungsu hubaibi sudah kelas satu
SMA. Selisih usia keduanya memang tidak terpaut jauh. Hanya satu tahun.
Mungkin karena itulah, masih belum ada salah satu dari mereka yang mau
mengalah. Biarlah… toh karena mereka juga rumah jadi ramai.

Ada yang lucu dengan kebiasaan kami di rumah, aku dan kedua adikku.
Begini, aku sekamar dengan adik perempuanku, sedang adikku yang
laki-laki tidur sendiri, tetapi bantal yang ada di kamar siapapun
adalah milik bersama. Ada tiga bantal guling di rumah kami.
Masing-masing kami punya satu. Tapi dari ketiga bantal guling itu, ada
satu bantal guling yang paling besar, paling empuk, dan paling nyaman.
Setiap hari kami berebut bantal itu. Tapi tunggu dulu. Kata berebut di
sini tidak mengandung unsur radikal atau kekerasan. Aturan mainnya
adalah, siapa yang meneriakkan guling itu miliknya terlebih dahulu,
maka guling itu sepenuhnya menjadi milik dalam waktu semalam. Seperti
ini misalnya.. Aku datang ke rumah, mengucapkan salam dan langsung
meneriakkan "Itu guliiing Aiizzzz!!" Jika aku yang pertama
meneriakkannya, maka akulah pemilik bantal guling itu. Namun tak
semudah itu, paling tidak harus ada salah satu dari kami yang
mendengarkan teriakan itu. Jika tidak yaa berarti tidak sah. Sekalipun
ada ibu yang yang mendengarnya. Karena itulah, aku ingin sekali cepat
pulang, bukan hanya karena ingin mendapatkan bantal guling itu, tapi
ada sensasi lain ketika aku menjadi bagian dalam permainan itu.

Ada sesuatu di dalamnya. Aku pun tak tahu mengapa ibu tak pernah
membelikan bantal guling yang lain untuk kami agar kami tak lagi saling
berebut. Mungkin dengan adanya tradisi permainan itu, ibu menginginkan
kami agar selalu cepat pulang… dan selalu ingat rumah..

Fenomena Doddy

Uncategorized No Comments »
Mendadak hidupku berubah. Berubah ke
arah mana, ke arah yang lebih positif tentunya (semoga). Berubah
kenapa, karena aku baru saja rajin naik sepeda ke tempat kerja..
Semuanya berasa beda. Sekarang aku punya banyak temen baru, didominasi
oleh mahluk berlabel laki-laki pastinya.. hahaha.. Tak sampai di situ,
sekumpulan laki-laki itu didominasi oleh satu nama… Doddy..

Untuk sementara ini masih 3 Doddy yang aku temui. Tiga-tiganya
sama-sama populer. Doddy yang pertama adalah Doddy Prasetyo, menjadi
populer karena ia ga pernah pake helm di jalan raya (eh, tp baru
belakangan ini aja dia mulai insyaf, sebab pacarnyalah yg membelikannya
helm.. hahaha). Beruntung, Doddy yang ini memiliki nama panggilan yang
memang benar-benar namanya. Ia dipanggil Doddy.

Doddy yang kedua, biasanya dipanggil Domar.. Akronim dari nama aslinya.
Doddy Mardiyansyah. Om Domar, demikian aku biasa memanggilnya..
Orangnya sih biasa aja, sebagai dedengkotnya B2W Timut, ini orang
sangat mengayomi para juniornya.. Salut deh buat Om yang satu ini..

The last (but not least) Doddy is Doddy Ferdo. Ya, dia selalu
memperkenalkan dirinya sebagai Doddy Ferdo. Pikiran-pikiran iseng
selalu melintas di benakku acap kali aku melihat dia memperkenalkan
dirinya pada orang lain. Ehm.. Doddy, Doddy Ferdo.. Aku menebak kalau
ini tidak jauh berbeda dengan kasus Om Domar. Aku curiga kalau Ferdo
juga merupakan akronim dari nama aslinya. Pada suatu kesempatan, aku
iseng menanyakan hal itu pada Doddy Ferdo.. "Om, nama asli om itu
Ferblablabla Doddy kan??" Dia orang cuma nyengir doang (agak2 lebay
yah.. dah make cuma, masih pake doang..). *Gw itu emang cerdas yah*
hihihihi.. Di kesempatan yang lain, ketika aku meminta alamat
Friendsternya, baru aku tahu apa sebenarnya di balik nama Ferdo ==>
Ferdianugraha Doddy..

Hahahaha..who’s gonna be the next Doddy?? ;)

She missed the #1 number

Uncategorized No Comments »
Pagi-pagi, seisi rumah sudah dibikin ramai oleh teriakan ibuku. Tumben.
Biasanya alarm yang dipasang olehnya lah yang selalu berteriak-teriak
membangunkan aku. Beliau masuk ke kamarku, menyalakan lampu dan
mondar-mandir di sebelah kamar tidurku sambil bersumpah serapah. Tak
jelas apa yang dikatakannya, aku menutup mukaku dengan bantal karena
silau, sambil sayup-sayup kudengarkan ibuku masih marah-marah tak
jelas..

"Ga mungkin!! Kok bisa kayak sebanyak ini??!! Bulan lalu cuma 119,
Paling2 bulan ini cuma 130-an, kok bisa nyampe 327.. Gimana ini bayar
tagihan air?? Masak nyampe sejuta lebih?? Siapa yang mau bayar?? Kamu
sih kalo pake air ga kira-kira.. Kalo nyuci ga pake peritungan..!!"

Haduuuh.. aku tuh ngga ngerti ibuku lagi ngomongin apa. Mau ngga mau,
aku memaksakan diri bangun, padahal aku masih nguantuk banget.

"Ada apa sih bu?? Pagi-pagi gini udah ngomel-ngomel?"

"Itu meteran air, kok bisa nyampe 327.., bulan kemaren cuma 119.. Harusnya bulan ini cuma 130-an"

"Aduh2, aiz ga ngerti, itu maksutnya apa.."

"Bulan kemaren itu meterannya 119 kubik, seberapa banyak sih kita make
air bulan ini?? Paling2 10 kubik. Harusnya kan nambahnya segitu, mosok
sampe 327 kubik. Gilaa!!"

Aku yakin ini permasalahan adanya di ibuku. Dia tuh gampang panik, padahal belum tahu duduk perkaranya bagaimana.

"Yuuk sama-sama kita liat lagi, siapa tahu ibu salah liat.."

Kami pun sama-sama keluar rumah menuju meteran air PAM.

See!! Angka yang tertera di sana adalah 013277.. Dimana angka 0132
tercetak hitam dan 77 tercetak merah sebagai penunjuk angka di belakang
koma..

Aku langsung ngeloyor pergi menuju kamarku (niat mo tidur lagi).. sambil bergumam mengusap muka dan kepala..

"Aduuuh ibuu, itu meteran aer cuma 132.. Ibu belom sarapan yah??"

Blek aku pun langsung tidur  lagi..

Cuapee deew…


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in