Kangen Rumah (Part 2)
Uncategorized No Comments »
Rasanya seperti punya utang jika tidak melanjutkan postinganku
sebelumnya, habis sudah terlanjur di labelli Part 1, ya mau nggak mau
harus ada part berikutnya dunk.. memang sekarang aku sudah tidak kost
lagi, setiap hari berangkat dari dan pulang ke rumah. Senang sekali
rasanya bisa mulai menikmati makanan rumah lagi..
Kali ini aku ingin bercerita tentang adik-adikku. Namanya Hubaibi dan
Asfiya. Kakak beradik yang tak pernah kelihatan akur. Selalu saja ada
yang diributkan. Padahal dua-duanya sama-sama sudah besar. Si tengah
Asfiya sudah kelas dua SMA sedang si bungsu hubaibi sudah kelas satu
SMA. Selisih usia keduanya memang tidak terpaut jauh. Hanya satu tahun.
Mungkin karena itulah, masih belum ada salah satu dari mereka yang mau
mengalah. Biarlah… toh karena mereka juga rumah jadi ramai.
Ada yang lucu dengan kebiasaan kami di rumah, aku dan kedua adikku.
Begini, aku sekamar dengan adik perempuanku, sedang adikku yang
laki-laki tidur sendiri, tetapi bantal yang ada di kamar siapapun
adalah milik bersama. Ada tiga bantal guling di rumah kami.
Masing-masing kami punya satu. Tapi dari ketiga bantal guling itu, ada
satu bantal guling yang paling besar, paling empuk, dan paling nyaman.
Setiap hari kami berebut bantal itu. Tapi tunggu dulu. Kata berebut di
sini tidak mengandung unsur radikal atau kekerasan. Aturan mainnya
adalah, siapa yang meneriakkan guling itu miliknya terlebih dahulu,
maka guling itu sepenuhnya menjadi milik dalam waktu semalam. Seperti
ini misalnya.. Aku datang ke rumah, mengucapkan salam dan langsung
meneriakkan "Itu guliiing Aiizzzz!!" Jika aku yang pertama
meneriakkannya, maka akulah pemilik bantal guling itu. Namun tak
semudah itu, paling tidak harus ada salah satu dari kami yang
mendengarkan teriakan itu. Jika tidak yaa berarti tidak sah. Sekalipun
ada ibu yang yang mendengarnya. Karena itulah, aku ingin sekali cepat
pulang, bukan hanya karena ingin mendapatkan bantal guling itu, tapi
ada sensasi lain ketika aku menjadi bagian dalam permainan itu.
Ada sesuatu di dalamnya. Aku pun tak tahu mengapa ibu tak pernah
membelikan bantal guling yang lain untuk kami agar kami tak lagi saling
berebut. Mungkin dengan adanya tradisi permainan itu, ibu menginginkan
kami agar selalu cepat pulang… dan selalu ingat rumah..
